
Hilangnya rasa malu dan perlunya saling menasihati
''Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran,'' (QS 103:1-3)
''Barang siapa dari kamu melihat kemunkaran hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan mulutnya. Apabila tidak mampu juga maka cukup dengan mengingkari dengan hatinya dan itu adalah bentuk iman yang paling lemah.'' (HR. Bukhari Muslim)
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia di manapun mereka berada memperlihatkan kekritisan yang aduhai beraninya terhadap berbagai penyelewengan yang terjadi khususnya terhadap Nepotisme, Kolusi, dan Korupsi (NKK). Siapapun sekarang ini dengan lantang akan menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap NKK tersebut. Apa sebenarnya yang terjadi? Disatu sisi cercaan tersebut ditujukan kepada tokoh atau sekolompok orang tertentu yang selama bertahun-tahun ber-NKK ria, sehingga mereka tidak peka lagi terhadap azab dan dosa. Ada satu rumor diantara kita, kamu boleh minta apa saja, bapak akan beri. Asal jangan minta satu hal, karena bapak sudah tidak punya lagi?. Apa itu, pak? Rasa malu dan rasa berdosa!!
Disisi lain dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar dan mencoba saling menasihati (bertaushiyyah) dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah dalam bentuk kritikan dan cercaan. Nah kedua hal itu yang akan kita coba kupas sepintas dalam buletin ini.
Hilangnya rasa malu dan kepekaan terhadap rasa berdosa
Pertama kali berbuat dosa, antara lain meninggalkan shalat, berbohong pada suami, berbohong pada istri, berbuat jahat pada orang lain, dan lain sebagainya, berkolusi, korupsi, dan mementingkan keluarga sendiri sekalipun dengan cara mengambil hak orang lain, diri yang fitri akan bergetar takut dan merasa bersalah. Rasa takut ini akan berkurang apabila perbuatan atau dosa yang sama diulang kedua kalinya. Dan, akan terus berkurang pada pengulangan ketiga, keempat, sampai akhirnya pekerjaan dosa itu menjadi biasa, menjadi adat dan kebiasaan sehingga hilang kepekaan hati.
Rasulullah saw telah menggambarkan hilangnya kepekaan hati semacam ini. Hati itu, kata Rasulullah saw, pada awalnya ibarat kain putih tanpa noda. Bila seseorang melakukan dosa maka akan ada titik hitam pada hati itu. Jika dia bertobat, maka titik hitam itu akan dihapus dan hatinya kembali putih. Tapi, bila tidak dan dia kembali mengulang berbuat dosa maka titik hitam itu ditambah lagi sampai akhirnya hatinya menjadi hitam legam. Hati seperti ini tidak lagi peduli dengan kemungkaran dan tidak lagi mengenal kebajikan. Inilah hati yang disebut Al Qur'an sebagai al Qulub al Qosiyah, yang lebih keras dari batu sekalipun. Hati yang demikian itulah yang pada akhirnya tidak memiliki rasa malu lagi.
Fase-fase hati menjadi qosiyah (keras membatu) sebagaimana dijelaskan Al Qur'an.
Pertama, dimulai dengan lupa dzikir kepada Allah karena dikuasai setan sebagaimana dapat kita simak dalam Al-Qur'an: "Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah" (QS 58:19).
Kedua, karena lupa kepada Allah maka Allah lupakan mereka kepada diri mereka sendiri sebagimana firman Allah: ''Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri'' (QS.59:19).
Ketiga, kemudian setan akan menjadi teman paling dekatnya sebagaimana firman Allah: ''Barang siapa yang berpaling dari dzikrullah maka akan Aku jadikan setan sebagai teman yang selalu menyertainya,'' (QS.43:36).
Keempat, setan ini akan menghiasi semua perbuatan mungkar yang dilakukan sehingga nampak baik dan benar baginya. Perhatikan firman Allah berikut ini: ''... Dan setan pun menghiasi bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka,'' (QS.29:38).
Kelima, karena itu hati mereka mengeras bagai batu bahkan lebih keras daripada batu, sehingga pada akhirnya tidak punya lagi rasa malu tadi. Tetapi yang lebih berbahaya dari hilangnya kepekaan hati terhadap dosa adalah hilangnya kepekaan atas azab Allah. Sering orang tak sadar bahwa ia sedang diazab Allah karena dosanya. Azab ini bisa berbentuk musibah, bencana, krisis ekonomi yang melanda Indonesia misalnya, tetapi juga bisa berbentuk kenikmatan duniawi.
Perlunya saling menasihati
"Agama adalah nasihat .... "(HR Bukhori dan Muslim) Makna hadis ini adalah agama itu semuanya berisi nasihat, petunjuk, dan bimbingan. Sedangkan makna praktis-aplikatif adalah bahwa setiap manusia beragama harus siap memberi nasihat dan menerimanya. Siap memberi nasihat karena itu adalah bagian dari amar ma'ruf wan nahi 'anilmunkar yang menjadi kewajiban setiap Muslim di saat melihat kemunkaran, dan berbagai macam perbuatan dosa.
Saling menasihati yang dalam bahasa Arabnya taushiyyah merupakan salah satu pilar untuk mengobati qasiyah. Saling menasihati memang harus menjadi perilaku utama orang-orang yang beriman, apa pun profesi, jabatan, serta kedudukannya. Dalam hidup ini, tidak ada orang yang kebal dari kesalahan dan perbuatan dosa. Saling menasihati tersebut adalah dalam upaya baik kita maupun orang lain mengurangi atau bahkan tidak melakukan sama sekali perbuatan dosa. Dilihat dari karakter manusia, teguran dan perbaikan juga merupakan hal yang sangat manusiawi. Karena, manusia secara fitri tidak maksum dan tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Rasulullah saw bersabda, "Setiap anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang mau bertobat". Memang berat untuk dapat menerima nasihat, kritik, atau protes. Ia bagaikan obat yang terasa pahit, namun dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit. Bahkan, sering kali orang yang suka dan biasa memberi nasihat, kritik, atau protes justru tidak doyan dan tidak tahan dinasihati, dikritik, atau diprotes.
Hanya seorang Muslim hakiki dan berjiwa besar yang dapat menerima teguran, kritikan, atau protes sebagai nasihat. Dia dapat menerimanya secara timbal balik dan tidak monolog. Karena yang menjadi ukuran baginya adalah kebenaran. Keberanian menyampaikan kebenaran adalah jihad baginya. "Berkatalah yang benar walaupun itu pahit" sabda Rasulullah saw. Sedangkan siap menerima setiap kebenaran adalah bukti utama dari keimanannya. Abu Bakar adalah salah seorang teladan pemimpin yang menyadari pentingnya hal ini. Ia sadar bahwa kekuasaan sering melampaui batas, jika tidak disertai sikap kritis dan taushiyyah dari masyarakat. Karena itu, salah satu isi pidato kenegaraan Khalifah Abu Bakr adalah mendorong umat berani mengoreksinya jika ia salah, "Bantulah aku jika benar, dan luruskan aku, jika aku salah …" demikian Abu Bakr berucap.
Umar bin Khatab, khalifah kedua, pada saat berpidato resmi sebagai kepala negara pernah diinterupsi oleh seorang wanita tua yang mengingatkan kesalahan Umar dalam pidatonya itu. Umar menerima peringatan ini sebagai nasihat dan secara patriotik mengakui bahwa beliau telah salah dan wanita itu benar. Sikap positif ini telah Umar mulai sejak awal kepemimpinannya. Pada saat pelantikannya sebagai khalifah beliau berpidato, "Seandainya aku dalam melaksanakan amanat ini melakukan kesalahan dan kekeliruan, maka tolong aku diingatkan dan diluruskan!" Salah seorang dari yang hadir lalu berdiri dan berkata dengan lantang. "Wahai Umar, aku akan meluruskan engkau dengan pedangku ini!" katanya sambil menghunus pedang. Kemudian Umar berkata dengan tenang, "Alhamdulillah, ada dari rakyatku yang mau meluruskan aku dengan pedangnya".
Hubungan persaudaraan dan kekeluargaan serta kehidupan bermasyarakat akan terasa sehat dan dinamis, manakala saling menasihati ini dikembangkan dan dibudayakan, tanpa disertai sikap saling mencurigai, benci, dan cercaan yang tidak pada tempatnya seperti dewasa ini terjadi di negara kita. Sedih rasanya manakala kita lihat tokoh-tokoh tertentu, karena ketokohannya, atau karena kekhilafannya, berbuat tidak pada tempatnya dalam rangka menasihati orang lain. Maksud awalnya menasihati dalam rangka amar ma'ruf wan nahi 'anilmunkar tetapi belakangan jadi political interest hingga membuahkan cercaan dan hinaan yang tidak pada tempatnya. Akibatnya tokoh-tokoh tersebut menjadi takabur, adigung adiluhur. Langsung maupun tidak, perilaku semacam ini akan merusak iklim kebersamaan. Sikap yang paling menonjol dari orang takabur ini adalah sikap penghinaan dan menganggap remeh pendapat serta kerja orang lain, gampang menilai orang lain tidak punya kemampuan, iri, dengki, bahkan dendam terhadap orang lain yang memperoleh kelebihan dan kesempatan. Sehingga, seolah-olah hanya orang lain yang salah, sedangkan dirinya sendiri bersih tak berdosa. Astagfirullah. Barangkali sudah saatnya kita patut beristigfar. Memohon ampun pada Illahi. Sebab, bagaimanapun, dinilai merugi orang yang selalu merasa dirinya suci dan benar atau selalu melemparkan kesalahan kepada orang lain sebagaimana dapat kita simak berikut ini: "Mereka yang menjauhi dosa-dosa yang besar dan perbuatan-perbuatan yang keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil .... Oleh karena itu, janganlah kamu memuji-muji dirimu sendiri. Sebab Dia tahu siapa yang sebenarnya bertaqwa." (QS 53:32).
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang berani memberi nasihat dan dapat menerima nasihat dengan lapang dada. Wallahu'alam bishawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar